Postingan

RACUN SEMANIS MADU

Gambar
Godlief Malatuny ( Sekretaris Konsorsium Peduli Pendidikan Maluku ) Judul tulisan ini sengaja saya pinjam dari kata Kahlil Gibran, sang pujangga besar asal Libanon dalam bukunya yang berjudul Bila Cinta Bicara untuk menggambarkan politisi yang piawai bersilat lidah dengan kata-kata manis bernada palsu. Amat ironis, dalam alam demokrasi seperti saat ini masih ada politisi secara riuh menawarkan berbagai program yang muluk-muluk demi meraup keuntungan suara. Padahal ia sendiri masih ragu dengan berbagai program yang ia tawarkan kepada warga, mengingat banyak janji yang mesti dituntaskan jika ia berhasil menduduki kursi yang direbut. Di situ, saya melihat ular kemunafikan dan kepalsuan merangkak. Terlepas dari fenomena itu, menjelang pemilukada saya melihat politisi mempermainkan pikiran dan otak orang-orang lemah bagai seekor kucing yang mempermainkan seekor tikus. Alih-alih seorang politisi boleh bohong, namun tak boleh salah adalah langkah awal baginya untuk berbicara sesuka hatinya ba...

DESA WATURU, KECAMATAN NIRUNMAS, KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT

Gambar

Menegakkan Nasionalisme Pendididikan Indonesia

Suara dari UPI Hal : Menegakkan Nasionalisme Pendididikan Indonesia Yang Terhormat Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di JAKARTA Assalamualaikum Wr. Wb. Meningkatkan kualitas pendidikan bagi bangsa Indonesia merupakan keniscayaan. Meski demikian, upaya yang dilakukan tidak boleh mengarah pada internasionalisasi semu yang justru menjebak dunia pendidikan kita terpelanting ke jurang keterpurukan. Ada sejumlah kebijakan yang perlu segera dievaluasi bahkan dihentikan. Salah satunya adalah kewajiban dosen dan mahasiswa melakukan publikasi internasional terindeks Scopus, mempunyai faktor dampak (impact factor) ISI Web of Science (Thomson Reuters) dan Scimago Journal Rank (SJR). Kebijakan ini, tanpa disadari, mengarah pada kolonialisasi intelektual dan mengabaikan nasionalisme pendidikan. Kewajiban bagi dosen yang memiliki jenjang jabatan Lektor Kepala/Magister atau Lektor Kepala/Doktor serta Profesor membuat jurn...

DIES NATALIES KOPMA

Gambar
DIES NATALIES KOPMA BAHTERA MANUNGGAL TAHUN 2018  Semarang, 25 Januari 2018  Apa sih dies natalis itu???  Dies natalis adalah peringatan hari lahir suatu organisasi atau lembaga. Nah  kapan sih acara dies natalies di kopma Bahtera Manunggal Polines ? Dies natalies kopma BM diperingati setiap tanggal 11 Januari, tetapi di tahun ini  diselenggarakan pada hari Sabtu, 13 Januari 2018 pukul 18.15 WIB  di Auditorium Politeknik Negeri Semarang. Dies natalies ini merupakan peringatan yang ke-24 dengan mengusung tema" Together to be Better" yang dihadiri oleh Wakil Direktur III POLINES, pembina KOPMA BM POLINES, seluruh pengurus dan calon pengurus KOPMA BM, serta para tamu undangan. Apa aja sih acara dalam dies natalies KOPMA BM yang ke-24? Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan-sambutan, kemudian dilanjut dengan hiburan dari kolaborasi antar departemen yang ada di KOPMA BM.Hiburan yang pertama diawali dengan penampilan akustik yang merupakan kolaborasi dari de...

Dikmen Dan Makrab

Gambar
Semarang, 4 November 2017 Dikmen Dan Makrab            Dalam rangka perekrutan calon pengurus kopma 2018/2019,Kopma Bahtera Manunggal mengadakan acara Pendidikan Menengah dan Malam Keakraban untuk meningkatkan pengetahuan para calon pengurus dan mempererat tali silaturahmi antara calon pengurus dan pengurus KOPMA Bahtera Manunggal Politeknik Negeri Semarang.            Pendidikan Menengah dan Malam Keakraban dilaksanakan di dua tempat yaitu di Hall Bem Lama dan Villa Gardenia di Bandungan. Acara dimulai pada hari Sabtu, 4 November 2017 pada pukul 07.00 WIB acara tersebut diikuti oleh seluruh calon pengurus kopma. Acara Dikmen dibagi menjadi 3 sesi materi. Sesi pertama yaitu materi tentang kewirausahaan dengan pembicara Mas Robby (Owner Bebek betutu),lalu dilanjut dengan materi Public Speaking dengan pembicara Bagas S. (Presiden Mahasiswa periode 2016/2017),lalu dilanjut dengan materi Sidang dengan pembicara Endah Oktaviani (Bad...

Glokalisasi; Global dan Lokal

Gambar
Yakob Godlif Malatuny, M.Pd ( Sekretaris Konsorsium Peduli Pendidikan Maluku ) Judul tulisan ini saya pinjam dari ide brilian Profesor Idrus Affandi dalam buku yang berjudul Global Citizen. Saya tahu persis pemikiran yang melatari Guru Besar Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Indonesia menerbitkan istilah tersebut. Namun, kemunculannya terasa nyeri-nyeri sedap dan menggelitik karena terkait beberapa kecenderungan dan ironi berikut. Kesatu, saat mendengar istilah globalisasi tak ubahnya sebagai internasionalisasi, bahkan cenderung uniformasi atau penyeragaman. Kedua, saat berburuk sangka, globalisasi malah bernuansa westernisasi, serba-Barat yang di dalamnya terdapat hegemoni, eksploitasi, dan kolonialisasi. Maka, dengan menutup mata, globalisasi mematikan nilai lokal, menghancurkan pranata nasional dan regional. Ketiga, globalisasi menuju satu arah, Barat. Namun saat melihat globalisasi dengan hati yang jernih, kosa kata ini menjadi keniscayaan. Akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan tek...

Indonesian Hoaxes

Gambar
[BERITA] Mengapa Orang Pintar Bisa Termakan Isu Hoax? Jakarta - Punya IQ (intelligence quotient) tinggi tidak menjamin bisa lepas dari pengaruh isu hoax. Hal ini dibuktikan oleh studi yang dilakukan oleh University of Illinois, Chicago, Amerika Serikat. Tomas Stahl, peneliti psikologi sosial dari University of Illinois, melakukan survei kepada 300 partisipan. Para partisipan menjalankan tes IQ lalu diberi beberapa berita yang mengandung unsur hoax. Hasilnya, ditemukan bahwa tingkat kecerdasan seseorang tidak menjamin ia bebas dari ancaman berita hoax. Menurut Stahl, kepercayaan dan latar belakang seseorang lebih memengaruhi keputusan soal menanggapi berita hoax daripada logika dan kemampuan menganalisis. "Jika Anda memutuskan sesuatu berdasarkan kepercayaan tanpa logika dan bukti-bukti, maka hasilnya sama saja antara orang dengan kemampuan intelegensia yang tinggi maupun rendah," tutur Stahl, dikutip dari EurekAlert! Lebih lanjut, Stahl mengatakan tidak semua orang dengan kem...